Showing posts with label Beauty. Show all posts
Showing posts with label Beauty. Show all posts

Pengalaman Magang di Sociolla / Beauty Journal | Part II

Wednesday, September 15, 2021

Pengalaman Magang di Sociolla


Haloooo! Seneng, deh, blogpost soal magang di Sociolla ternyata banyak yang baca :')


Dari blogpost itu, ada beberapa yang DM gue buat nanya beberapa hal yang belum terjawab. Nah, supaya bisa menjawab dan lebih membantu kalian yang lagi cari-cari seputar kerja atau magang di Sociolla, gue rangkum di sini pertanyaan yang paling sering ditanyakan beserta jawabannya, ya!


note: gue magang di divisi Editorial Beauty Journal tahun 2017 dan akhirnya diangkat jadi karyawan tetap. Sekarang gue kerja sebagai Content Editor di Beauty Journal. Supaya tetap menjawab, gue juga dibantu oleh Lintang, ex-intern Sociolla (Maret – Mei 2021) yang sekarang jadi Content Writer tetap di Beauty Journal.


BACA PART I DI SINI



Prosesnya dari apply sampe interview gimana, proses seleksinya apa aja, dan prosesnya berapa lama, ya?

Pertama, gue ceritain gimana proses di tahun 2017 dulu, ya, dan supaya jelas, gue rinci berdasarkan timeline aja:

  • 21/08/2017 – Gue liat lowongan di website Sociolla dan apply via email jam 2 siang. Masih di hari yang sama, jam set 5 sore, gue ditelfon dan ditanya ketersediaan untuk wawancara besoknya. Kelar telfon, gue di-email yang isinya undangan interview tanggal 22 Agustus
  • 22/08/2017 – Interview jam 3 sore di Sociolla
  • 24/08/2017 – Dapet email yang isinya gue diterima internship dan kontrak untuk ditandatangan
  • 28/08/2017 – Hari pertama mulai internship

Di tahun 2017, menurut gue prosesnya terbilang cepet banget, tapi itu 4 tahun yang lalu :)

Dulu Sociolla masih di ruko dan timnya masih kecil–tentu yang apply jumlahnya juga nggak sebanyak sekarang, makanya lebih simpel. Sekarang, Sociolla kan udah berkembang banget, nih. Yang lamar pun otomatis makin banyak.

Jadi, kalo semisalnya kalian udah kirim CV terus nggak langsung dibales 1-2 hari, jangan kecil hati duluuu. Karena mungkin banget HR-nya lagi pusing milih-milih ribuan CV yang masuk, lho...

Lintang: Setelah lulus sidang skripsi di pertengahan Januari aku aku emang cari-cari tempat magang sebelum kerja full time sambil nunggu wisuda (eh, malah jadinya ga ikut wisuda, lol). Jadi, dari akhir Januari sampai Februari aku sebar CV & portfolio. Nah, waktu itu, di akun LinkedIn Sociolla ada poster hiring gitu. 

Lucunya, justru enggak ada lowongan buat Content Writer. Di antara list lowongan yang ada, paling mendekati dan pernah aku pelajari pas kuliah itu Video Editor, jadi aku daftar itu di awal bulan Februari 2021. 

Seminggu belum ada kabar, dua minggu, sampai hampir sebulan tiba-tiba ada WA dari recruitment team dan langsung dikasih info untuk magang sebagai Content Writer. Kebetulan aku sebelumnya juga sempet magang jadi Content Writer, jadi aku pun enggak keberatan diganti role-nya.

Setelah setuju, aku dikasih jadwal interview sama HR. Setelah interview pertama, enggak lama, kurang lebih sehari aku langsung dihubungi kembali untuk maju ke tahap praktik penulisan artikel dan interview bersama editor (Kak Andin). 

Karena masih pandemi jadi semua tahap tesnya dilakukan secara virtual. Mungkin sekitar 2-3 hari setelah interview kedua, HR memberi kabar kalau aku diterima magang. Nah, meskipun baru magang, proses administrasinya juga udah profesional gitu (maklum fresh graduate agak shock, ngebatin keren amat, hehe).

Oh iyaaa, pas recruitment itu HR juga ngobrol sama supervisi aku di perusahaan tempat magang sebelumnya.


Bocorin, dong, salah satu pertanyaan interview-nya apa?

Lintang: Hmm, aku udah agak lupa sih, haha. Tapi seinget aku ada pertanyaan kenapa tertarik untuk jadi Content Writer di Sociolla. Terus ditanya soal pengalaman itu udah pasti. Sempet ditanya juga apa kabar yang lagi rame belakangan ini, boleh lifestyle atau beauty.

Ditanya juga gimana aku ngeliat diriku lima tahun ke depan. Kebanyakan lebih ke pengalaman di tempat magang sebelumnya sama pengalaman di kampus, sih. Mulai dari disuruh ceritain role-nya, hambatan, sampe mengatasi hambatan itu sendiri. Mungkin kalo case Content Writer pasti nggak jauh-jauh, kalo lagi suntuk nulis atau lagi writer's block itu gimana cara mengatasinya.


Interviewnya pake Bahasa Indonesia apa Bahasa Inggris?

Indonesia, tapi bisa Bahasa Inggris pastinya jadi poin plus, karena banyak pekerjaan yang melibatkan Bahasa Inggris–misalnya untuk pembuatan caption atau untuk tim Marketing yang kerja dengan brand dari sana-sini.

Lintang: Dua tahap interview dilakukan menggunakan bahasa Indonesia.


Harus pake portfolio, ya? Bikinnya gimana, sih...

Setau gue, ya, kalo kamu apply ke divisi creative, misalnya Graphic Designer, Writer, Copywriter, Producer, Videographer, dan sejenisnya–perlu pake portfolio. Untuk divisi lain kayak marketing, IT, administration, dan sejenisnya–nggak harus pake portfolio.

Portfolio adalah contoh pekerjaan yang pernah dilakukan sebelumnya. Misalnya kamu apply jadi Writer, maka portfolio kamu isinya contoh artikel yang pernah ditulis. Kalo kamu apply jadi internship di Production (tim video), maka portfolio kamu isinya video yang pernah kamu shoot atau edit misalnya. Begituuu.

Lintang: Seingat aku harus menyertakan portfolio. Aku pun sebelumnya justru bukan daftar sebagai Content Writer. Tapi, karena di portofolio lebih banyak artikel, mungkin HR liat aku lebih cocok sebagai Content Writer.


Kalo nggak ada pengalaman kerja gimana?

Ya gapapa, namanya juga magang. Gue pun pas apply cuma punya pengalaman magang untuk keperluan kampus yang nggak ada hubungannya.

Lintang: Aku juga belum ada pengalaman kerja di sebuah perusahaan, terutama media secara profesional. Hanya pernah freelance sama magang sebanyak sekali.


Pengalaman Magang di Sociolla

Magang di Sociolla ngapain aja? Job desk-nya apa?

Pada dasarnya... internship atau magang itu kerjanya meng-assist atau membantu tim terkait. Kamu magang di Editorial? Ya pekerjaannya membantu tim tersebut, dengan nulis 3 artikel, misalnya. Kamu magang di Marketing? Ya kerjaannya ngebantuin tim Marketing.

Kamu bingung tim Marketing kerjanya apa? Tim Production ngapain? Google, lah. Seriusan nih, kalo kamu mau apply magang, mbok ya jangan males baca-baca... Cari tau dulu kerjaan-kerjaannya kayak gimana, jadi bisa apply ke divisi yang pas. 

Kalo kurang menjawab, kamu bisa lebih effort, caranya adalah kamu buka LinkedIn, cari orang yang kerja di Sociolla dengan jabatan di divisi yang kamu ingin, terus kamu bisa: connect dan message orangnya. Atau do it the creepier way: cari akun Instagramnya, terus DM tanya-tanya.

Lintang: Selama magang sebagai content writer, pekerjaan sehari-harinya sudah pasti nulis, ya hehe. Nulis artikel beauty, lifestyle, quiz, bantuin konten instagram, cari ide tulisan, liputan, nulis lagi buat klien, pokoknya ngga jauh-jauh dari nulis hahaha. Oiya walaupun magang, kita tetep dilibatkan kalau ada meeting-meeting gitu, lho.


Kalau jurusan kuliahnya berbeda sama divisi yang di-apply gapapa?

GAPAPA BANGEEET. Ada kok yang lulusan arsitektur tapi akhirnya jadi Social Media Specialist di Beauty Journal.


Setelah diterima magang, bakal dilatih nggak buat kerjanya?

Iya dan nggak. Nggak ada pelatihan formal, jadi begitu masuk langsung mulai kerja meskipun sedikit-sedikit. Tapi pastinya akan dibantu dan diajarin untuk beberapa hal kayak penggunaan Quire, ClickUp, atau Admin Panel. Untuk divisi Editorial, pastinya akan ada feedback soal penulisan juga.

Lintang: Dilatih banget dan beneran terjun. Anak magang aja tetep masuk di productivity app buat tracking kerjaan. Awal-awal banyak dikasih tuntunan dulu, soal gaya penulisannya, cara pakai blognya, dan lain sebagainya. Apalagi kalau nulis untuk klien, itu dapat banyak pelajaran banget. Terus juga komunikasi sama divisi lain dan liputan langsung itu salah satu bentuk latihan buat kerja juga sih.


Magangnya dibayar nggak?

Dibayar, tenang aja HAHA.

Lintang: 
Waktu magang (thank God) dibayar. Jujur aja, waktu sebar CV dan portfolio, aku selalu daftar yang paid intern. Soalnya kalo kata AOC, “experience doesn't pay the bills”, guys, hehehe. Seneng banget, waktu tau magang Sociolla dibayar, seenggaknya bisa buat uang transport dan makan siang, apalagi tempat tinggalku sama kantor Sociolla lumayan jauh.


Selama pandemi kerjanya WFH apa WFO?

Lintang: Waktu situasi sempat kondusif, kerjanya WFH dan WFO, jadi seminggu dua kali WFO, sisanya WFH. Tapi, selama PPKM darurat ini full WFH.


Lokasi kantornya di mana?

St. Moritz Office Building, Unit #1502, Jl. Puri Indah Raya, RT.3/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610


Ada kemungkinan direkrut jadi karyawan tetap nggak dari magang?

Ada, dong! Gue dan Lintang, contohnya. Btw, gue juga nanya ke Lintang, gimana proses dia diangkat jadi karyawan tetap dari magang. Ini jawabannya, ya!

Lintang: Mendekati minggu-minggu terakhir periode magang, aku harus mempresentasikan hasil magang selama 3 bulan. Mulai dari role kita, value yang didapat, dan lain sebagainya. Terus, dari situ biasanya akan ditanya dulu, kalau full time atau jadi kontributor apakah aku tertarik? 

Aku jawab tertarik, lalu beberapa hari setelah periode berakhir, dihubungi lagi sama HR, apakah aku beneran tertarik dan bisa mulai kapan? Setelah aku jawab, dikabarin lagi untuk langsung wawancara terkait salary, setelah itu langsung dijelasin soal kontrak tertulis dan dikasih tau kapan bisa mulai kerja. Segala urusan administrasi, termasuk kontrak dikirim via email, karena pandemi. Langsung masuk grup divisi lagi, deh, haha.


Apa saja yang perlu dipersiapkan?

Hmmm, apa, ya? Mental mau belajar sih yang paling penting menurut gue.

Lintang: Menurutku tergantung divisi, ya. Tapi mungkin kalau divisi konten, portfolio cukup penting. Kalau bisa portfolio juga yang pernah dipublish secara komersial gitu, jangan terlalu banyak tugas kampus mungkin. Terus mungkin sebisa mungkin update media sosial. Since, kita kerja di dunia digital, target pasarnya anak muda dan young adult yang banyak main medsos, jadi seenggaknya bisa relevan. 

Pas diwawancara sama supervisor soal yang lagi hype juga bisa jawab haha. Sama cari timing yang tepat buat apply magang, dengan cara rajin-rajin mantengin LinkedIn Sociolla dan kepoin anak-anak magang di sana. Jadi, dilihat aja periode magang mereka, kalau sudah habis 3 bulan, kamu bisa mulai kirim, ada kemungkinan recruitment team cari anak magang baru. Tapi kalau masih ada anak magang di satu divisi itu, mungkin mereka belum butuh lagi.


Kesan pesan

Intinya, kalo magangnya nggak hepi, nggak mungkin gue betah kerja sampe hampir 4 tahun di Sociolla, deh :))) (btw!! Bisa cek IG highlight gue juga di sini, ya!)

Lintang: Pertama, pasti seneng banget bisa magang di Sociolla. Aku sendiri yakin, magang di Sociolla bisa jadi awal yang baik untuk karier aku ke depan (semoga, amin). Waktu tahun terakhir kuliah, aku selalu kepikiran untuk kerja yang masih dekat dengan jurusanku (jurnalistik) tapi kalau bisa topik yang dibahas juga yang aku suka, enggak jauh-jauh dari beauty dan lifestyle. Selain itu, aku selalu punya prinsip kalau magang atau kerja, selain dibayar, pastiin kamu juga punya mentor dan bisa berkembang. 

Thank God, senior aku di Sociolla bisa jadi sosok mentor yang mau membimbing. Sejauh ini, hubungan antar rekan kerja positif dan enggak berlebihan, batasan-batasannya jelas, lingkungan kerjanya sehat, kantornya bersih, adem hahaha, dan bonus suka dapet skin care gratis hehehe. Bahkan, kalau denger cerita temen-temenku pas magang, aku berasa beruntung dan bersyukur banget punya pengalaman magang di Sociolla.


Satu lagi, deh, buat yang penasaran magang di Sociolla bakal dapet produk nggak?

Dapeet, apalagi kalo lagi nggak pandemi gini sih, huhu. Cek di Part I buat tau gue dapet apa aja, ya~

Lintang: Banyak dapet produk beauty dan semuanya berkesan hahaha. Waktu liputan Wardah Colorfit, beneran dikasih semua shade dan varian produk, itu banyak banget dan kardusnya besar banget. Terus bisa dapat produk beauty lain, bahkan sebelum launching. Kalau kakak-kakaknya liputan atau dapat produk baru banyak, kita juga suka kecipratan, lho. Pokoknya pasti ada aja, deh, hahaha.



Nah, itu dia beberapa pertanyaan yang paling sering ditanyain seputar magang di Sociolla dan Beauty Journal. As always, kalau ada yang mau ditanyain lagi, boleh comment di bawah atau DM ke Instagram gue :)

Tertarik magang atau kerja di Sociolla juga? Langsung aja klik di bawah ini, ya!




Cheers,

Review: Trilogy Rosehip Multishield Moisturizer SPF 15

Monday, October 12, 2020

Udah lama juga ya nggak bikin review produk skin care... Mumpung lagi gabut dan sebelum 'pamitan' sama Trilogy Rosehip Multishield Moisturizer SPF 15, sekalian dibikin review-nya dulu, deh! Without further ado, langsung aja simak ulasannya berikut ini, ya!

Ini produk apa, ya?

Review-Trilogy-Rosehip-Multishield-Moisturizer

Trilogy Rosehip Multishield Moisturizer SPF 15 adalah pelembap wajah keluaran Trilogy, brand asal Australia, yang masih masuk ke dalam lini Rosehip-nya. Brand Trilogy sendiri memang populer karena produk Rosehip Oil-nya.

Nah, Rosehip Oil yang jadi kandungan andalan mereka ini pun diinkorporasi dalam beberapa produk skin care lainnya, seperti Cleansing Oil, Cream Cleanser, dan moisturizer seperti produk yang gue mau review ini.

Nggak sekadar moisturizer biasa, produk ini punya embel-embel "multishield moisturizer". Apa nih maksudnya? Jadi, pelembap ini tuh mengandung Rosehip, PEPHA-AGE, Marula Oil, dan SPF 15––yang membuatnya punya kemampuan untuk:
  • Melembapkan kulit,
  • Melindungi kulit dari sinar UV,
  • Melindungi kulit dari blue blight atau pancaran sinar biru dari gadget, dan...
  • Membantu menyamarkan tampilan garis halus atau kerutan.
Setelah baca manfaatnya, langsung kepikir nggak sih kalau pelembap ini pas banget buat yang lagi WFH dan sehari-hari liat layar? Gue sih kepikiran gitu, ya, haha. Makanya akhirnya gue cobain pelembap ini pas pertengahan WFH. By the way, ini gue nggak beli, ya. Temen editorial ada yang dapet dari liputan, terus dikasih hehe.

Tekstur dan formulanya kayak gimana?

Dibaca dari kemasan dusnya, ada tulisan kalau pelembap ini "non-greasy". Makin pas buat gue yang punya kulit kombinasi, dong? Sadly, meskipun bener produknya nggak greasy, menurut gue Trilogy Rosehip Multishield Moisturizer ini punya tekstur yang relatif thick. Bahkan, kalau gue ambil kebanyakan, jadi agak susah diratain dan ninggalin whitecast.

Review-Trilogy-Rosehip-Multishield-Moisturizer
Review-Trilogy-Rosehip-Multishield-Moisturizer
Tekstur sebelum diratakan

Review-Trilogy-Rosehip-Multishield-Moisturizer
Tekstur setelah diratakan beberapa kali usap (see that whitecast I'm talking about?)

Sebenernya, kalau kalian cukup sabar, bisa banget ini dipake sedikit-sedikit aja terus diratain pelan-pelan. Karena kalau gue coba swatch di tangan, teksturnya masih nyaman banget, lho! Begitu rata, pelembap ini pun nggak ninggalin rasa lengket. Tapi kebetulan gue orangnya agak nggak sabaran kalo buat skin care. Jadi akhirnya gue stop pake setelah beberapa kali pemakaian. Buat pemakaian di bawah makeup nggak ada masalah.

Terus, gimana efeknya ke kulit?

Sepanjang pemakaian, gue nggak ada komplain sama sekali buat efeknya ke kulit. Yes, emang pakenya harus sabar. Tapi efeknya fine-fine aja. Cukup melembapkan, nggak bikin makin berminyak, atau nyumbat pori-pori. 

I think this would be a great product for those with dry skin. I can also imagine dilluting this with 1-2 drops of rosehip oil for better texture and extra moisture. Buat efek perlindungan atau garis halus, I can't say much, karena gue juga belum pakai untuk jangka waktu yang lama.

Jadi, suka nggak sama produknya?

Review-Trilogy-Rosehip-Multishield-Moisturizer

Yes! I like it but I know that it's not meant for my skin right now. Agak sad sih haha, soalnya gue cocok banget sama Rosehip Oil dari Trilogy. Mungkin nanti kalau gue berencana traveling ke tempat dingin, I would probably reach back to this product. In the meantime, gue berencana buat ngoper pelembap ini ke temen gue yang punya kulit kering.

Kesimpulan:
(+) Great ingredients. Rosehip, Marula, Anti-aging, what more could you ask for?
(+) No side effects. Nggak clog pores atau bikin kulit makin berminyak
(+) Great packaging. Simpel dan travel-friendly.
(+) Lumayan environmentally friendly. Kemasannya recycleable dan nggak melakukan animal-testing. 

(-) Thick texture. Butuh waktu lebih untuk diratain secara sempurna untuk kulit kombinasi / berminyak.
(-) Pricey. Ya, tapi ini relatif, sih... kalau kalian sehari-hari skin carenya La Mer, ini jatohnya affordable, kok...

Belinya di mana? Terus harganya berapa?

Harga: Rp650.000
Bisa dibeli di: C&F atau Sociolla (click to buy!)

Cheers,

Pengalaman Magang di Editorial Beauty Journal / Sociolla

Sunday, April 19, 2020

Quotes di tangga kantor Sociolla yang lama
Baca cerita cari-cari kerja sebelumnya di sini.


Previously on my job hunt journey: I interviewed here and there, until I applied and finally got called by PT Social Bella Indonesia a.k.a Sociolla for interview on August 22, 2017.

Setelah ditelfon HR dan dapet email undangan untuk wawancara di Sociolla, hari Selasa jam 3 sore pun gue sampe di kantor Sociolla. Gue nunggu sekitar 15 menitan, terus langsung wawancara user sama... Ci Santi. If you don't know, Ci Santi adalah nama sapaan CMO sekaligus co-founder Sociolla :))))) (btw, mau ngetik nama lengkap Ci Santi tapi takut dia googling terus kebaca...)

Horor nggak tuh di-interview langsung sama pendiri kantornya?

March 2020 Haul

Saturday, April 11, 2020

Did you know that it is Wednesday 1.30 PM as I'm writing this? Well, now you know. Harusnya sekarang gue lagi kerja di rumah gara-gara corona. Tapi ya ampun. Kalo udah di rumah, ketemu sofa pewe, angin sepoi-sepoi, rasanya tuh nggak pengen kerja banget, ya...

Yah, sambil berusaha ngumpulin niat buat kerja, gue stretching ngetik aja deh sekalian nyatet produk apa aja yang gue dapet di Bulan Maret lalu. Plus, sayang juga kan gue udah foto cakep-cakep tapi nggak di-post. He.

DNVB: The Case of Beauty Startups in Indonesia

Saturday, March 28, 2020

Disclaimer: I am definitely not an expert on whatever field this article fits into. 
source
I first heard the term DNVB when I was listening to Breaking Beauty Podcast with Emily Weiss, the founder of Glossier. Then I made a quick google search of the term and realized that the definition is basically what most beauty business in Indonesia is. To tell you more about DNVB and how it's related to Indonesia's beauty business, I'm gonna do a brief explanation below and switching to Bahasa.


Pengertian DNVB

Oke, pertama-tama, apa sih DNVB itu? 

Kepanjangan dari singkatan ini adalah Digitally Native Vertical Brand. Biar nggak pusing, gampangnya istilah ini dipecah jadi dua: Digitally Native dan Vertical Brand¹. Digitally Native artinya bermula dari medium digital, alias mulai secara online. Vertical Brand artinya brand yang mengontrol bisnisnya dari tahap produksi, hingga sampai ke tangan konsumen.

Bicara lebih detail soal Vertical Brand, yang membuatnya berbeda dengan model bisnis lainnya adalah Vertical Brand benar-benar ngejalanin semuanya. Kan ada, ya, beberapa bisnis yang hanya ambil barang, baru didistribusikan dan dijual. Ada juga yang produksi sendiri, tapi yang ngejual orang lain. Nah, kalau Vertical Brand ini, ya, mereka lakoni semua. Begitu, lho.

Jadi kesimpulannya, DNVB adalah bisnis yang bermula secara online, dimana proses bisnisnya dijalani sendiri semua dari produksi sampai bisa diterima konsumen.


Apa hubungannya DNVB dan bisnis kecantikan Indonesia?

source

Untuk lebih ngeh kaitan antara istilah ini dan bisnis kecantikan Indonesia, kita bahas per poin-poin DNVB, ya.


1. Inti DNVB adalah bisnis 'sendiri' yang berbasis online². 

The easiest examples would be Rollover Reaction atau BLP Beauty. Meski bisnis sendiri, bukan nggak mungkin kalau ada DNVB yang menggunakan e-commerce atau media sosial untuk berjualan, karena platform jualan ini tuh istilahnya hanya sebagai pengantar saja.

Nggak cuma Rollover Reaction dan BLP Beauty, if you're like me who loves to browse beauty brands on Instagram, pasti kalian sedikit-sedikit memperhatikan deh kalau sekarang banyaaaak banget brand kosmetik lokal yang bermunculan di Instagram. Ya ESQA lah, Dear Me Beauty, Luxcrime, The Bath Box, For Skin's Sake, dan masih banyak lagi.

By the way, kalau untuk Wardah, Make Over, dan Emina alias geng Paragon, I'm not sure where they started, jadi nggak di-include, ya.


2. Ada 2 hal yang menurut gue pribadi jadi kunci DNVB, yang pertama itu branding, yang kedua media sosial. Untuk poin branding juga disetujui jadi kunci DNVB menurut artikel ini. Nah, bahasan branding ini bisa panjang banget, sih (SOK. HAHA. Padahal cuma 1-3 kalimat).


Berikut sedikit kutipan dari Entrepreneur.com:

The digital vertically integrated brand is internet enabled, born digitally and interacts with customers primarily online. It seeks to build a strong brand lifestyle that speaks to people and shapes their choices. To build such a community, v-commerce brands present and design their products in a highly compelling way and in a consistent voice.   

DNVBs’ products meticulously represent the brand identity and both their products and their packaging are designed to be shared on social media. These brands rely heavily on visual content displayed across a multitude of marketing channels. To scale content creation and to meet content needs, DNVBs often rely on user-generated content.


Sering denger istilah instagramable atau instagram-worthy? Nah, ini dia kata kunci yang dipraktikkan sama para DNVB. Alih-alih pake marketing konvesional yang jualan banget, DNVB lebih berfokus bikin konten yang 'berkarakter' dan, ya, itu tadi: instagramable. Istilah lainnya mungkin aesthetically pleasing kali, ya.

Oh, iya, persoalan estetis ini juga nggak cuma berlaku untuk feed Instagram atau tampilan website aja, tapi juga ke packaging dan tampilan produk-produknya. Termasuk ke box atau bubble wrap yang kita terima pas produknya dikirim. Meticulous, rite? Then again, balik lagi ke kutipan di atas, ini semua emang diniatin banget karena tujuannya biar si produk di-share ke media sosial. Kalau dibikin sampe ke box-box-nya aja lucu, pastinya konsumen juga makin ingin share. That's why banyak konten unboxing.


3. "DNVBs often rely on user-generated content"

Apa sih maksudnya user-generated content? Artinya adalah konten yang dibuat oleh konsumen itu sendiri. Contohnya apa? Instagram story, post di feed, dan sejenisnya yang biasanya disebut 'Testimonial' atau 'Review'. 

Jadi, di samping bikin-bikin konten yang aesthetic tadi, DNVB juga seringnya nih ngandelin kita-kita. Gimana tuh caranya? Gampang: repost, retweet, atau add to your story. Versi lebih niatnya, ya, via endorsement. By the way, ini bukan karena mereka males atau low budget, lho, tapi memang user-generated content membangun rasa percaya, meningkatkan potensi orang untuk berbelanja, memperkuat branding, dan sekaligus nambah stok konten mereka yang lebih 'real'³.

Jujur aja, ketimbang online shop yang isinya cuma foto-foto katalog rapi nan bersih, terkadang yang ada repost-repost-nya dari konsumen keliatan lebih terjamin, kan? Dibanding nonton instagram story suatu brand, gue pribadi pun ngerasa jauh lebih teracuni kalau ngeliat story seseorang yang gue kenal review atau nyebut brand tersebut.

4. DNVB sangat aktif di media sosial. 

Ngomongin data sedikit, ya. Dilansir dari sini, Bain Consulting³ menemukan kalau ternyata 67% konsumen mengaku menggunakan media sosial brand sebagai customer service dan 72% di antaranya berharap brand akan merespon dalam hitungan jam. 
Hayo, ada yang merasa pernah komplain ke brand via Instagram, nggak? Gue sih pernah HAHA. Padahal jelas-jelas ada customer service khusus, ya. Contohnya bisa dilihat di mana? Coba cek kolom komentar brand-brand, deh... biasanya pasti ada aja 1-2 komentar nyelip, "Kak, kok paket aku belum dateng, ya? Paket aku manaaa?!?"

Sayangnya, 5 dari 6 interaksi tidak terjawab oleh brand. Padahal, kalau brand tersebut aktif merespon dan berinteraksi sama konsumennya, ditemukan bahwa konsumen tersebut akan berbelanja 20 - 40% lebih banyak, lho! Teruntuk kalian-kalian para pemilik brand, yuk mulai dibales DM-nya yang udah 99+ itu.

Balik lagi ke gue pribadi, I don't know if you feel the same, tapi memang direspon sama brand bikin kita ngerasa dihargai. Sesimpel dikasih emoji love kalau kita nge-tag di Instagram story. Apalagi kalau responnya kerasa personal alias nggak template plek-plekan.


Masih dari Entrepreneur.com, disebutkan juga kalau DNVB cenderung membuat digital experiences alias pengalaman digital, di mana konsumen bisa berinteraksi dan ikut nge-share juga. Ponnya adalah membuat konten yang shareable alias bikin kita mau nge-share. Contohnya ini limitless, sih, bisa sesimpel bagi-bagi wallpaper gratis kayak Glossier, buka Q&A, nge-post quotes, bikin polling, dan masih banyaaaaak lagi. Targetnya siapa? Oh tentu millenials dan gen Z.


source

5. WOW AKHIRNYA SAMPAI DI POIN TERAKHIR. Oke, poin terakhir adalah DNVB tidak melulu harus tetap digital, pada akhirnya banyak juga DNVB yang merambah ke offline, kok! Mungkin awalnya cuma ikut-ikut bazaar atau buat pop-up store, atau nebeng showcase ke toko lain, tapi nggak menutup kemungkinan kalau pada akhirnya jadi brick and mortar store juga. See Glossier, BLP Beauty, Rollover Reaction, and Sociolla for example. Oh, iya, brand-brand yang ada di Beauty Bar The Goods Dept. pun bisa dihitung mulai merambah ke offline.


Oke... jadi kesimpulannya apa?

source

Ya nggak ada, sih... HAHA. Ini lebih ke fyi aja. Supaya lebih paham oh brand-brand kecantikan lokal begini toh. Mungkin kalau kalian punya rencana untuk bikin bisnis sendiri, bisa baca-baca lebih jauh juga soal DNVB, ya. 

Oh, iya, nambahin sedikit, DNVB punya banyak keuntungan dibanding model bisnis lainnya, lho. Salah dua alesannya adalah karena DNVB bisa memangkas pengeluaran dengan mengontrol proses produksi, distribusi, sampai ke marketing, dan DNVB juga 'kaya' akan data konsumennya, wong mereka sendiri yang ngelayanin jadi pasti tahu banget market mereka seperti apa.
Yowis, itu dulu aja he he.


See ya on the next post!
xx



References:

Introduction.

Saturday, July 14, 2018


(nope, this isn't coming from the blog template. I copied this from google. I'll edit this post later on when I know what to write as an introduction.)

Lorem ipsum dolor sit amet, tota admodum his et, vidit tritani numquam has ad, cum te sonet consequuntur. Nostrud perpetua eam et, nec impetus apeirian et, ei homero audiam salutatus sed. Noster noluisse sea no, ei quo iusto volutpat neglegentur. Semper gloriatur sit te, mei affert virtute denique ex.

In eos aeterno scaevola facilisis, eum assum inermis explicari id. Ius et graeci lucilius maiestatis, nec et falli impedit torquatos. Erant platonem comprehensam vim ex, vis in malis commodo constituto. Qui te accommodare delicatissimi, eu animal molestie mei. Ea has omnis congue salutatus, fabellas scribentur eu mei, scaevola posidonium ad vim.

Eu legimus perpetua usu, ius in congue graeco diceret. Ea eos luptatum comprehensam, semper sadipscing intellegebat eu quo, utinam philosophia instructior in est. Vivendum deterruisset ei his, tibique lobortis praesent et duo. Iusto antiopam hendrerit ne vix, tollit mollis eligendi an duo. Ne eos ridens iuvaret vocibus, pri ea atqui postea, no pri tale illud.

Ea sed paulo disputationi, pri eu albucius oporteat. Ne pro volumus inciderint, saepe copiosae in sea, unum principes consequat in eam. Cu pri quas nonumy, ad est laboramus liberavisse concludaturque. Te praesent incorrupte vim, id vix clita electram salutatus, cu iriure consetetur pro.

Te stet temporibus nam, ne probo graeci comprehensam mei. Ex his omnes propriae persecuti. No sit pericula salutandi. Cu eum nibh maiorum, sit an habemus officiis iracundia, qui ex consul incorrupte intellegebat. Nec ei quod lucilius, eu pri quem causae delicata.


google-site-verification: googlefa0f5ad63add3f0f.html